loading...

Kisah Rumitnya Memerankan DN Aidit dalam Film G30S/PKI

Film pemberontakan G30S/PKI belakangan banyak dibicarakan selepas ada rencana pemutaran kembali film yang sejak 1998 sudah tak ditayangkan secara serentak di stasiun televisi tersebut. Banyak hal yang diperdebatkan mengenai film yang diproduksi pada tahun 1984 itu, salah satunya adalah adegan yang menampilkan D.N Aidit, Ketua CC Partai Komunis Indonesia (PKI).

Pada film tersebut, ada sebuah adegan yang menggambarkan Aidit merokok saat menggelar rapat. Adegan ini menuai banyak protes, salah satunya dari Ilham Aidit, putra DN Aidit.

Ilham yang hadir di diskusi ILC, TV One Selasa (19/9/2017) mempersoalkan adegan itu, pasalnya dia meyakini jika ayahnya bukanlah seorang perokok.

Ia menyoalkan di film itu yang digambarkan bahwa Aidit adalah perokok berat dan asap mengepul tebal saat ayahnya memimpin rapat. Padahal, Ilham pernah mendapat kisah bagaimana ayahnya pernah batuk-batuk saat diminta para petinggi partai merokok ketika rapat. “Pakar-pakar itu mem-bully Aidit,” kata Ilham Aidit.

Berdasarkan laporan yang diturunkan Tempo.co, sutradara film tersebut, Arifin C Noer, ketika diwawancara seusai film tersebut usai digarapnya mengaku kesulitan dalam melakukan riset mengenai beberapa tokoh kunci, salah satunya adalah Aidit.

Arifin C Noer mengaku jika satu-satunya buku yang menjadi bahan adalah buku berjudul Percobaan Kudeta Gerakan 30 September di Indonesia. Buku itu bersumber dari kisah-kisah yang ditulis sejarawan militer Nugroho Notosusanto dan investigator Ismail Saleh inilah yang tersedia. Nugroho Notosusanto, Menteri Pendidikan di era Presiden Soeharto adalah produser film itu.

Arifin juga melakukan riset dengan jalan mewawancarai sejumlah pelaku sejarah serta mencoba untuk mencari properti yang asli.

Ia menjelaskan bagaimana pada tahun 1984 sudah hampir tidak ada pelaku sejarah yang masih hidup yang mengenal para petinggi Partai Komunis Indonesia (PKI). Satu-satunya dan yang mengenal Aidit hanya Sjam Kamaruzaman. Meski demikian, Arifin merasa tidak bisa mendapatkan informasi yang detil dari Sjam perihal Aidit.

Sementara itu, untuk memilih orang yang memerankan Aidit, Arifin memilih Syubah Asa, budayawan yang juga Wartawan TEMPO. Berdasarkan keterangan Jajang C Noer, istri Arifin, suaminya memilih Syubah karena dirasa mirip dengan sosok Aidit yang dilihatnya berdasarkan sebuah foto.

”Dari pasfoto itulah Mas Arifin punya kesan bahwa Aidit terlihat mirip Syu’bah. Bukan pada kepersisan wajah, tapi pada wibawa.” kata Jajang.

Syubah juga meuturkan bagaimana dirinya melakukan riset mengenai Aidit. Ia semalam suntuk berbicara dengan seseorang untuk belajar mengenai gerak tubuh dan lagak Aidit.

Syubah yang pernah menjadi Ketua Komite Teater Dewan Kesenian Jakarta ini menyatakan ingin memberikan perwatakan yang utuh, namun Arifin memintanya hanya menampilkan beberapa ekspresi saja.

”Tapi Arifin bilang tak perlu karena dia hanya butuh beberapa ekspresi saja.” Syubah Asa menuturkan itu pada tahun 1984 dan 2007. Syubah sudah meninggal 24 Juli 2011, dikutip dari tempo.co.

Sedangkan mengenai adegan merokok yang disoalkan, Jajang berdalih jika merokok bisa memberi gambaran bahwa seseorang sedang berfikir keras.

”Secara visual terlihat lebih bagus penggambaran seseorang yang berpikir keras itu lewat rokoknya,” ulas Jajang.

Ia juga memberikan penjelasan mengenai tabalnya asap rokok saat rapat hanya sebuah metafora saja dari betapa situasi politik saat itu memang sedang kurang baik.

”Itu sebabnya ada adegan di mana layar hanya dipenuhi asap rokok sebagai metafor sumpeknya suasana politik Indonesia,” lanjutnya.

Sumber: http://www.suratkabar.id/53539/news/kisah-rumitnya-memerankan-dn-aidit-dalam-film-g30spki/amp
Loading...
loading...