loading...

Fakta-Fakta Ini Akan Ungkap Kesalahan dalam Film G30S/PKI

Gerakan 30 September atau PKI disingkat G30S/PKI, adalah sebuah peristiwa yang terjadi selewat malam tanggal 30 September sampai di awal 1 Oktober 1965 ketika tujuh perwira tinggi militer Indonesia beserta beberapa orang lainnya dibunuh dalam suatu usaha kudeta.

Perisitiwa ini oleh pemerintah orde baru kemudian membuat film dokudarama. Film ini disutradarai dan ditulis oleh Arifin C. Noer, diproduseri oleh G Dwipayana dan dibintangi Amoroso Katamsi, Umar Kayam, dan Syubah Asa.

Diproduksi selama dua tahun dengan anggaran sebesar Rp. 800 juta kala itu, film ini disponsori oleh pemerintahan Orde Baru Soeharto.

Film ini dibuat berdasarkan pada versi resmi menurut pemerintah kala itu dari peristiwa "Gerakan 30 September" atau "G30S" (peristiwa percobaan kudeta pada tahun 1965) yang ditulis oleh Nugroho Notosusanto dan Ismail Saleh, yang menggambarkan peristiwa kudeta ini didalangi oleh Partai Komunis Indonesia atau PKI.

Dalam film tersebut banyak sekali perilaku kekerasan, darah dan kata-kata kasar yang identik dengan anggota PKI. Bahkan dalam adegan penculikan DI Panjaitan bisa disaksikan darah sang jenderal oleh anaknya dibasuh ke wajah lantaran tak terima dengan kematian tersebut.

Adegan-adegan dalam film ini adalah fakta sejarah yang tak bisa dipungkiri oleh siapapun lantaran kekejaman PKI.

Tapi ternyata ada juga beberapa adegan dalam Film G30SPKI yang tak sesuai dengan fakta sejarahnya. Apa-apa saja fakta tersebut.

1.DN Aidit Perokok
Tokoh sentral kudeta yang dilakukan oleh PKI adalah Dipa Nusantara Aidit atau DN Aidit. Pada 1965, PKI menjadi partai politik terbesar di Indonesia, dan menjadi semakin berani dalam memperlihatkan kecenderungannya terhadap kekuasaan. Pada tanggal 30 September 1965 terjadilah tragedi nasional yang dimulai di Jakarta dengan diculik dan dibunuhnya enam orang jenderal dan seorang perwira.

Dalam sebuah adegan DN Aidit terlihat selalu merokok. Namun ternyata ada fakta lain terhadap hal ini. Pria yang terlahir dengan nama Achmad Aidit ternyata bukanlah perokok.

Bahkan dalam sebuah Kongres PKI 5 Januari 1959 ia berpesan kepada anggotanya untuk berhenti merokok dan uang yang biasa dipakai untuk membeli rokok dipakai untuk partai.

2. Para Jenderal dibunuh disayat.

Masyarakat Indonesia pada masa itu tentunya akan geram dengan penghianatan yang dilakukan PKI. Apalagi para jenderal yang dibunuh adalah perwira-perwira tinggi yang cerdas dan cemerlang karirnya.

Namun dalam adegan Film G30SPKI terlihat mendiang Jenderal Ahmad Yani dan kawan-kawan dibunuh secara sadis. Ada yang disayat-sayat pakai silet, dipotong alat kelaminnya sampai matanya dicungkil.

Tapi orang-orang berpendapat pembunuhan dan penyisaan para jenderal tidak seperti ini. Semua jenderal termasuk perwira Piere Tendean dibunuh dengan cara ditembak.

3.Gerwani Menari-nari

Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani adalah organisasi wanita yang aktif di Indonesia pada tahun 1950-an dan 1960-an.

Organisasi ini didirikan pada tahun 1950, dan memiliki lebih dari 650.000 anggota pada tahun 1957.[1] Kelompok ini memiliki hubungan yang kuat dengan Partai Komunis Indonesia, tetapi sebenarnya merupakan organisasi independen yang memperhatikan masalah-masalah sosialisme dan feminisme, termasuk reformasi hukum perkawinan, hak-hak buruh, dan nasionalisme Indonesia.

Setelah kudeta 30 September 1965, Gerwani dilarang dan banyak anggotanya tewas, dan di bawah Presiden Suharto organisasi ini menjadi contoh yang sering dikutip dari tindakan amoralitas dan gangguan selama era pra-1965.

Pada saat para jenderal ditangkap dan dibawa ke Lubang Buaya dalam film digambarkan anggota Gerwani melakukan 'Tarian Harum Bunga' yang kotor.

Namun fakta sejarah yang terungkap Gerwani memang berada di Lubang Buaya, tapi mereka tak melakukan tarian tersebut apalagi diberitakan oleh pengasa orde baru melakukan penyiksaan kepada para jenderal.

4. Presiden Soekarno Sakit
Dalam film G30S PKI Presiden Soekarno terlihat sebagai pemimpin yang 'bingung-bingung' karena sedang sakit. Namun fakta yang terungkap bapak proklamator RI ini pada saat perisitiwa tersebut dalam keadaan sehat dan tidak menderita penyakit apapun.

Itulah beberapa fakta sejarah yang wajib Anda ketahui tentang film G30S PKI.

Mantan Bendahara Umum DPP Komite Pemuda Nasional Indonesia (KNPI), Lieus Sungkharisma enuturkan, terlepas dari pro kontra terkait penggarapan film tersebut namun dengan menonton film G30S/PKI maka generasi muda bisa memahami kembali sejarah bangsanya. Sejarah kelam bangsa ini harus disampaikan sehingga generasi muda tahu apa yang pernah terjadi di masa lalu pada bangsanya. Oleh karenanya tidak ada alasan apapun yang bisa menjauhkan bangsa ini dari sejarah masa lalunya.

"Pengkhianatan PKI adalah fakta sejarah yang tidak bisa dibantah. Ada sejumlah jenderal dan perwira TNI yang dibantai kala itu. Bahkan ada seorang anak kecil yang tidak berdosa, Ade Irma Suryani, putri Jenderal Abdul Haris Nasution, yang ikut menjadi korban. Ini catatan kelam bangsa kita. Anak-anak muda kita saat ini harus diingatkan kembali akan peristiwa biadab itu. Dan salah satu cara terbaik untuk mengingatkannya adalah dengan menonton film tersebut,” tegas Lieus.

Sumber: tribunnews.com, harianterbit.com
Loading...
loading...