loading...

Ortu Protes Anaknya Tidak Naik Kelas karena Nilai Matematika Nol

Ortu Protes Anaknya Tidak Naik Kelas karena Nilai Matematika Nol-- Kepala SMAN 4 Bandung Dadang Yani Zakaria dan guru menyampaikan penjelasan soal angka nol di rapor siswa. Angka itu dipersoalkan orang tua karena membuat anaknya tinggal kelas. "Di rapor benar ada angka nol untuk matematika," kata Dadang di sekolah tersebut, Senin, 5 September 2016.

Menurut Dadang, angka nol merujuk pada hasil sistem penilaian kurikulum 2013. Dari tiga komponen nilai yang dihitung, Dv—inisial siswa, tercatat hanya punya satu komponen dengan nilai 50. Setelah dirata-ratakan dari hasil akumulasi, nilainya 16,7. "Konsekuensi dari penilaian berbasis teknologi informasi, hasil nilainya nol," kata Yudi Slamet, mantan Wakil Kepala Sekolah yang kini menjadi guru kimia di sekolah tersebut.

Guru matematika kelas X, Wiwik Suprapti, mengatakan tiga komponen nilai pelajaran Matematika itu keterampilan 1-3. Keterampilan tersebut misalnya menggambar kurva, serta nilai dari ujian tengah semester. Ujian keterampilan ada yang dikerjakan siswa di sekolah juga di rumah. “Sampai penilaian untuk kenaikan kelas, (Dv) tidak memberikan laporan tugas,” ujarnya.

Dadang mengatakan wali kelas juga guru bimbingan konseling, melaporkan siswi Dv mengalami masalah di rumah yang berpengaruh pada prestasi belajar di sekolah. Ibu Dv disebutnya kerap bolak-balik diminta bertemu guru di sekolah karena masalah tersebut. ”Sudah sering diingatkan guru wali kelas untuk rajin belajar dan menyelesaikan tugas,” kata Kepala Sekolah.

Orang tua siswa tersebut berencana melaporkan kasus angka nol itu ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia. "Ada hak-hak anak yang dizalimi," kata Danny Daud Setiana, orang tua siswa tersebut, di kantor Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, Ahad, 4 September 2016.

Menurut Dadang, total ada lima anak kelas X yang tidak naik kelas karena tidak memenuhi syarat. Pemberian nilai siswa disebutnya merupakan hak guru yang tidak bisa diintervensi siapa pun, termasuk kepala sekolah. Keputusan siswa tidak naik kelas merupakan hasil pleno guru di sekolah. “Naik kelas dan tidak naik kelas merupakan upaya kami dalam mendidik siswa,” ujarnya.

Guru bimbingan karier Sekolah Menengah Atas Negeri 4 Bandung, Dewi Ramdhani, menyarankan siswi berinisial DV mendapat bimbingan psikolog. DV adalah siswi kelas X yang tidak naik kelas karena nilai salah satu mata pelajarannya, yakni matematika, nol. Ayah siswi tersebut tidak puas dan berencana mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak Indonesia.

Menurut Dewi, DV mengalami akumulasi masalah yang tidak tuntas sehingga perlu pertolongan psikolog. Masalah itu diketahui dari curahan hati yang ditulis DV secara runut dan diperlihatkan kepada ibunya. “Isinya apa, tidak boleh diungkap. Anaknya perlu ke psikolog untuk mendapatkan terapi khusus,” ujar Dewi kepada Tempo di sekolahnya, Senin, 5 September 2016.

Dewi menyayangkan sikap orang tua yang tidak menceritakan masalah DV di sekolah sebelumnya. Akibatnya, guru-guru bimbingan karier mencari informasi ke guru-guru SD dan SMP kenalannya di bekas sekolah DV. “Seharusnya dari awal orang tuanya terbuka sama kami. Jangan yang bagusnya saja soal ranking, tapi kondisi sosialnya juga penting karena sekolah bukan cuma soal otak kan,” katanya.

Pihak sekolah mencatat DV beberapa kali sakit sehingga lalai mengerjakan tugas. Akibatnya, ada nilai yang kosong sehingga keluar nilai nol pada rapor di pelajaran matematika. Walau DV kini tak bersekolah lagi di SMAN 4 Bandung, pihak sekolah masih menganggap DV sebagai siswinya.
“Kami siap terima anak bersekolah. Walau bersekolah ke psikolog juga harus jalan dan komunikasi dengan orang tua diperbaiki supaya ada perubahan,” tuturnya.

Ayah siswi tersebut menyatakan tidak puas atas keputusan sekolah yang membuat DV tidak naik kelas. Berdalih DV mengalami sakit sehingga sulit mengerjakan tugas, upaya mediasi dengan pihak sekolah akhirnya gagal. Karena itu, ayah DV akan mengadu ke Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandung Elih Sudiapermana mengatakan setiap waktu ada siswa yang tidak naik kelas. Namun kejadian seperti ini baru pertama kali terjadi. Dinas berjanji membantu upaya mediasi pada persoalan tersebut. “Kami tidak bermaksud siswi menjadi korban,” tuturnya.

tempo
Loading...
loading...